Jakarta, 3 Juli 2026 – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menyatakan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat dibutuhkan oleh masyarakat perdesaan. Menurutnya, masih banyak warga desa yang jarang mengonsumsi telur maupun daging ayam setiap pekan, sehingga program tersebut dinilai hadir pada waktu yang tepat.
Namun, pernyataan tersebut memicu beragam tanggapan di media sosial. Sejumlah warganet menyampaikan pengalaman berbeda dengan menyebut bahwa di banyak wilayah pedesaan, masyarakat telah terbiasa mengonsumsi telur dan daging ayam, bahkan dalam beberapa keluarga menjadi menu sehari-hari.
Salah satu komentar yang ramai dibagikan menggunakan bahasa Jawa Banyumasan berbunyi:
“Apa rika jarang mangan endog karo ayam, lur?”
Kalimat tersebut, yang dalam bahasa Indonesia berarti “Apa kalian jarang makan telur dan ayam, teman-teman?”, mencerminkan keraguan sebagian warganet terhadap pernyataan tersebut sekaligus mengundang warga dari berbagai daerah untuk berbagi pengalaman mengenai pola konsumsi pangan di desa masing-masing.
Perdebatan di media sosial pun berkembang menjadi diskusi mengenai kondisi masyarakat desa yang beragam. Sebagian pengguna menilai pernyataan tersebut tidak mewakili seluruh desa di Indonesia, mengingat kondisi ekonomi, akses pangan, dan kebiasaan konsumsi setiap daerah berbeda-beda. Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa masih terdapat wilayah-wilayah tertentu dengan tingkat konsumsi protein hewani yang relatif rendah sehingga membutuhkan perhatian pemerintah.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan meningkatkan asupan gizi masyarakat, khususnya bagi anak-anak dan kelompok rentan, melalui penyediaan makanan bergizi secara terencana.









