BANJARNEGARA – Tradisi Ruwat Bumi kembali digelar dengan meriah oleh masyarakat Desa Pagedongan, Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara, Minggu (12/7/2026). Kegiatan yang menjadi warisan budaya turun-temurun ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah sekaligus upaya melestarikan tradisi leluhur.
Rangkaian acara dipusatkan di Lapangan Ponjen, Desa Pagedongan, dengan menampilkan arak-arakan tujuh gunungan hasil bumi yang mewakili tujuh dusun, serta berbagai pertunjukan seni tradisional yang disambut antusias oleh masyarakat.
Ratusan warga memadati lokasi kegiatan. Hadir pula jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Pagedongan, unsur Koramil, Polsek Pagedongan, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan Karang Taruna.
Kepala Desa Pagedongan, Siti Latifah, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut berkat kerja sama seluruh elemen masyarakat.
“Alhamdulillah dan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kami dapat kembali menggelar Ruwat Bumi sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus nguri-uri budaya warisan leluhur. Ini merupakan pelaksanaan yang kedua dan dapat terlaksana berkat kerja sama yang luar biasa antara pemerintah desa dan masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kirab tahun ini menampilkan tujuh gunungan hasil bumi yang menjadi simbol kebersamaan seluruh dusun di Desa Pagedongan.
“Semoga masyarakat Pagedongan selalu guyub rukun, aman, dan sejahtera,” harapnya.
Sementara itu, Camat Pagedongan, Purwanto, S.E., M.Si., mengapresiasi semangat masyarakat dalam menjaga tradisi budaya yang sarat nilai kebersamaan.
“Kami dari Forkopimcam mengapresiasi penyelenggaraan Ruwat Bumi Desa Pagedongan. Semoga masyarakat tetap guyub rukun, terus menjaga semangat kebersamaan, dan selalu waspada terhadap potensi bahaya kebakaran mengingat saat ini memasuki musim kemarau yang cukup ekstrem,” pesannya.
Ketua panitia pelaksana juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi sehingga acara dapat berlangsung dengan tertib dan lancar.
Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda, anak-anak hingga para tokoh masyarakat, menjadi kunci sukses penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Sejak pagi hingga siang dilaksanakan kirab hasil bumi, kemudian sore hari digelar prosesi Ruwat Bumi yang dilanjutkan dengan tradisi perebutan gunungan hasil bumi oleh warga. Malam harinya, acara ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk sebagai hiburan sekaligus pelestarian seni budaya Jawa,” jelasnya.
Tradisi Ruwat Bumi tidak hanya menjadi wujud rasa syukur atas hasil pertanian, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, memperkuat semangat gotong royong, serta melestarikan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun di tengah masyarakat Banjarnegara.









