SPPG Somawangi: Diduga Sajikan Buah Busuk Program MBG Dengan Alibi ‘Oksidasi’

banner 468x60

Banjarnegara – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program nasional pemerintah Indonesia yang bertujuan menyediakan makanan bergizi secara cuma-cuma bagi anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Program ini dirancang untuk menekan angka stunting serta meningkatkan kualitas gizi masyarakat demi menyiapkan generasi yang lebih sehat.

Namun, realitas di lapangan justru memunculkan polemik. Pelaksanaan MBG di dapur SPPG Desa Somawangi, Desa Somawangi, Banjarnegara, menjadi sorotan tajam publik karena dinilai tidak sesuai harapan.

Alih-alih meningkatkan kualitas gizi, satuan pendidikan (SPPG) setempat justru menyuguhkan buah pir yang sudah tidak layak konsumsi kepada para siswa pada Jumat (27/2/2026). Temuan buah busuk tersebut langsung memicu kemarahan sejumlah orang tua murid. Mereka menuding pihak penyelenggara lebih mengutamakan keuntungan dengan membeli bahan pangan berkualitas rendah atau “asal murah”.

Alibi Oksidasi dan Janji Ganti Rugi

Kepala SPPG Somawangi, Anis, dalam pesan singkat WhatsApp pada Jumat (17/2/2026), secara terbuka mengakui kesalahan tersebut. Namun, ia berdalih bahwa warna kecokelatan pada pir madu merupakan dampak alami dari oksidasi enzimatik akibat gesekan saat penyimpanan.

“Kami akui salah. Pir madu memang sensitif dan mudah memar. Ke depan, kami tidak akan memesan jenis buah itu lagi. Ia juga menjanjikan akan mengganti buah tersebut pada Senin mendatang,” ujar Anis melalui pesan singkatnya.

Kritik Pedas: Pemborosan dan Lemahnya Pengawasan

Penjelasan teknis itu tidak meredakan kekecewaan wali murid. Salah satu orang tua siswa menilai kejadian tersebut sebagai bentuk ketidakprofesionalan yang berujung pada pemborosan anggaran negara.

“Ini beli buahnya asal murah, tidak mikir layak atau tidak kalau dikonsumsi manusia apalagi anak balita. Kalau belinya kualitas bagus, tidak perlu ada drama ganti-mengganti. Ini namanya pemborosan: beli buah busuk, lalu keluar uang lagi untuk mengganti,” cetus salah satu wali murid dengan nada geram.

Ketua Harian Satgas MBG Kabupaten setempat, Izak Danial Aloys, SSTP., MSi., saat dikonfirmasi wartawan melalui WhatsApp, menyampaikan bahwa prosedur penggantian harus segera dilakukan melalui koordinasi antara guru pendamping dan pihak dapur.
“Terang Izak Danial Aloys.”

Desakan Evaluasi Menyeluruh

Meski prosedur penggantian dijalankan, publik tetap mendesak evaluasi total terhadap rantai distribusi dan pengawasan mutu makanan. Masyarakat menilai program MBG tidak boleh sekadar menjadi proyek formalitas atau ajang mencari keuntungan pribadi, melainkan harus benar-benar mengutamakan keamanan pangan bagi generasi penerus sesuai tujuan pemerintah.

Berdasarkan pantauan awak media, keresahan masyarakat semakin meningkat terhadap dugaan kelalaian sejumlah oknum SPPG yang dinilai tidak memperhatikan mutu dan kualitas menu sesuai standar program pemerintah.

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Yayasan Alhusnah Tanjungtirta belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang dikirimkan awak media melalui pesan WhatsApp.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *