DCF 2026 Jadi Etalase Produk Lokal, UMKM Banjarnegara Perluas Pasar

banner 468x60

BANJARNEGARA — Dieng Culture Festival (DCF) 2026 tak hanya menjadi panggung budaya dan pariwisata, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Banjarnegara untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas jaringan pasar.

Keramaian pengunjung selama festival mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen dari berbagai daerah. Momentum tersebut dimanfaatkan Mandiri Serayu, kelompok usaha perempuan asal Desa Tapen, Kecamatan Wanadadi, untuk memasarkan beragam produk olahan lokal.

Ketua Asosiasi Mandiri Serayu, Nangimah, mengatakan kelompoknya konsisten mengikuti DCF sejak 2014.

“Setiap tahun ikut. Sejak 2014 tidak pernah absen,” kata Nangimah, Minggu (30/8).

Menurutnya, DCF menjadi ruang strategis bagi UMKM untuk mengenalkan produk secara langsung kepada konsumen. Apalagi, festival tersebut mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

“UKM harus naik kelas. Pengunjung banyak, event-nya juga internasional,” ujarnya.

Berbagai produk dibawa Mandiri Serayu ke stan, mulai dari olahan pisang, mocaf, tahu, keripik tahu hingga aneka jajanan.

Pada DCF 2026, mereka juga memperkenalkan produk baru berupa selai salak yang dikembangkan dari komoditas lokal Banjarnegara. Produk tersebut diharapkan mampu memberikan nilai tambah terhadap hasil pertanian lokal sekaligus membuka peluang pasar baru.

Pengembangan selai salak dilakukan melalui kolaborasi Mandiri Serayu dengan Komunitas Sinergi Ekonomi Rakyat dan Kedaulatan Usaha (SERDADU). Komunitas tersebut bergerak dalam advokasi ekonomi masyarakat, termasuk mendorong pengembangan usaha dan pemanfaatan potensi ekonomi lokal.

Anggota Mandiri Serayu, Yana Budiarti, mengatakan respons pengunjung terhadap produk yang ditawarkan cukup baik. Penjualan juga berjalan selama festival berlangsung.

Menurut Yana, pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Banjarnegara dan daerah sekitar. Bahkan, beberapa wisatawan mancanegara turut membeli produk yang mereka tawarkan.

“Ada yang mampir dari Prancis, beli keripik tahu,” kata Yana.

Bagi Mandiri Serayu, keikutsertaan dalam DCF bukan semata-mata mengejar transaksi penjualan. Festival juga menjadi ruang pembelajaran bagi anggota untuk meningkatkan kemampuan pemasaran, membangun jejaring, sekaligus memperluas branding produk.

“Melatih SDM untuk mempromosikan produk. Jalin kerja sama, dapat link dan kenalan baru. Branding lebih luas,” ujarnya.

Saat ini Mandiri Serayu memiliki sekitar 60 anggota perempuan yang tersebar di 20 kecamatan. Kelompok tersebut menjadi wadah bagi perempuan untuk mengembangkan usaha dengan memanfaatkan berbagai potensi lokal.

Keikutsertaan Mandiri Serayu dalam DCF turut difasilitasi Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop UKM) Banjarnegara.

Sebagai salah satu kelompok binaan Disperindagkop UKM, Mandiri Serayu mendapatkan ruang promosi dan pemasaran dalam kegiatan DCF. Namun, kebutuhan operasional selama mengikuti kegiatan tetap disiapkan secara mandiri oleh kelompok.

“Kami tetap menyiapkan biaya operasional sendiri,” ujar Yana.

Nangimah mengapresiasi pembinaan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Disperindagkop UKM. Menurutnya, pembinaan yang diberikan tidak hanya sebatas memfasilitasi keikutsertaan dalam pameran.

“Sudah ada pelatihan, dipertemukan dengan perbankan, sudah dibina rutin,” katanya.

Selain mengandalkan pameran dan festival, Mandiri Serayu mulai memperkuat pemasaran melalui marketplace dan media sosial. Strategi tersebut dilakukan agar pemasaran produk tetap berjalan meskipun tidak sedang mengikuti kegiatan festival.

Yana berharap dukungan terhadap UMKM lokal terus diperkuat, terutama dalam aspek pemasaran dan akses permodalan.

Ia juga berharap produk UMKM Banjarnegara mendapatkan ruang lebih besar dalam berbagai kegiatan pemerintah maupun lingkungan aparatur sipil negara (ASN).

“Harapannya ada tempat khusus untuk pusat oleh-oleh,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan pusat oleh-oleh akan memberikan ruang pemasaran yang lebih berkelanjutan bagi produk UMKM Banjarnegara. Dengan demikian, pelaku usaha tidak hanya bergantung pada momentum festival atau kegiatan tertentu.

DCF Dorong Perputaran Ekonomi Masyarakat

Keterlibatan UMKM menjadi bagian dari pengembangan DCF 2026. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menempatkan festival tersebut tidak hanya sebagai agenda budaya dan pariwisata, tetapi juga sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana menyebut DCF sebagai ekosistem wisata berbasis masyarakat. Festival tersebut diharapkan ikut menggerakkan ekonomi masyarakat, memberdayakan UMKM, membuka peluang usaha, sekaligus menciptakan lapangan kerja.

Pada penyelenggaraan ke-16 tahun ini, berbagai produk lokal kembali mendapat ruang untuk diperkenalkan kepada pengunjung. Produk tersebut antara lain carica, purwaceng, kopi, batik hingga berbagai kerajinan lokal.

Dampak ekonomi DCF juga terlihat dari penyelenggaraan sebelumnya. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menyebut, berdasarkan rilis Bank Indonesia, multiplier effect dari penyelenggaraan sebelumnya mencapai sekitar Rp50 miliar di wilayah Banjarnegara.

Sementara itu, pada DCF 2026, Festival Kopi Dieng yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan mencatat transaksi sekitar Rp15 miliar.

Bagi pelaku UMKM, ramainya DCF bukan sekadar kesempatan untuk berjualan. Pertemuan dengan konsumen baru, promosi produk, peningkatan kemampuan pemasaran, serta terbentuknya jaringan usaha menjadi bagian penting dalam upaya memperluas pasar produk lokal Banjarnegara.

Dengan demikian, festival budaya tidak berhenti sebagai tontonan. Bagi pelaku usaha lokal, DCF menjadi etalase ekonomi daerah, tempat produk Banjarnegara bertemu dengan pasar yang lebih luas.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *