Banjarnegara – Di balik dinginnya udara pegunungan Desa Semangkung, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, kehangatan tungku pemanggangan tembakau masih terus terjaga.
Warga setempat secara turun-temurun merawat tradisi pemrosesan tembakau tradisional bernama Mbako Garangan, olahan tembakau khas yang pembuatannya membutuhkan kombinasi pelayuan, perajangan, pemanggangan atau digarang di atas tungku api, hingga penjemuran.
Di antara segelintir pengrajin yang bertahan, ada sosok Mbah Siswo (84). Tangan tua pengrajin ini sangat lincah merajang daun tembakau. Bagi Mbah Siswo dan warga Semangkung, mbako garangan bukan sekadar mata pencaharian, melainkan warisan leluhur yang cita rasanya tidak bisa ditiru oleh industri modern.
“Mbako garangan di Semangkung ini sudah ada sejak lama, dulu orang tua saya juga membuat mbako garangan. Kalau saya sendiri mulai umur 15 tahun seperti ini, membuat mbako garangan,” katanya, ketika ditemui di rumahnya pada Kamis (13/8/2026).
Menurut Mbah Siswo, pembuatan mbako garangan tergolong istimewa sekaligus menuntut ketelitian ekstra. Para petani harus membaca pergerakan musim dengan cermat agar panen tembakau yang hanya berlangsung satu kali dalam setahun menjelang musim kemarau mendapatkan hasil optimal.
Proses panjang yang bisa memakan waktu hingga satu bulan ini melibatkan beberapa tahapan telaten yang dilakukan oleh Mbah Siswo dan para pengrajin setempat, seperti pelayuan daun, daun tembakau yang baru dipetik dibiarkan menguning dan layu secara alami untuk memunculkan aroma khasnya.
Tahapan dilanjutkan perajangan tipis, daun yang telah layu kemudian dirajang secara manual dengan irisan tipis dan seragam, kemudian ditata dan dipadatkan di atas rigen atau alas dari anyaman bambu.
Langkah selanjutnya adalah penggarangan atau pemanggangan. Tembakau di atas rigen dipanggang langsung di atas bara api kayu bakar untuk meresapkan aroma asap dan mengunci warnanya. Setelah digarang, tembakau dijemur di bawah sinar matahari kurang lebih selama 15 hari.
“Proses bertahap ini menghasilkan tembakau padat berwarna hitam yang memiliki karakter rasa khas, legit, tidak ampang dan meninggalkan sensasi rasa manis alami,” kata Mbah Siswo
Meskipun proses pembuatannya butuh waktu lama, lanjut Mbah Siswo, mbako garangan Semangkung ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Satu eler atau satu mbako garangan ukuran panjang sekitar 50 cm dan lebar 30 cm dengan ketebalan 2 cm dijual dengan kisaran harga Rp.500.000. Biasanya mbako garangan dicetak pada rigen yang berisi 5 eler. Produk ini tidak hanya dipasarkan di wilayah Banjarnegara, tetapi juga merambah luar kota.
Sekretaris Desa Semangkung, Badriah, mengungkapkan, meskipun secara nilai per panen tembakau cukup tinggi, petani tetap mengombinasikannya dengan tanaman sayuran melalui sistem tumpang sari untuk menjaga stabilitas pendapatan harian.
Di balik potensinya, tradisi pembuatan mbako garangan pun menghadapi kekhawatiran. Saat ini hanya tersisa sekitar 30 orang warga yang masih aktif membuat mbako garangan yang mayoritas usianya sudah tidak muda lagi.
Gempuran rokok pabrikan dan kerumitan teknik tradisional menjadikan regenerasi sebagai tantangan terbesar di Desa Semangkung.
“Proses pembuatannya yang terbilang rumit dan butuh perlakuan khusus membuat banyak anak muda enggan terjun menjadi pengrajin. Minat generasi muda untuk meneruskan pembuatan mbako garangan ini sangat kurang,” jelasnya
Tanpa adanya keterlibatan anak muda, cita rasa khas mbako garangan buatan pengrajin seperti Mbah Siswo dikhawatirkan lambat laun hanya akan menjadi kenangan sejarah dari Semangkung Pejawaran. (***)









