Salak Banjarnegara Diolah Jadi Selai Premium, Tim SALACCA Raih Juara Lomba Wirausaha UNSOED

banner 468x60

PURWOKERTO— Salak pondoh Banjarnegara diolah menjadi produk selai premium oleh tiga mahasiswa Universitas Terbuka Purwokerto–Pokjar Dr. Sukirman Banjarnegara. Inovasi tersebut membawa Tim SALACCA meraih juara tiga dalam Entrepreneur Competition 2026 yang digelar SEEO Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED).

Tim tersebut beranggotakan Rahmalia Dewi, Okki Falikah Ramadhani dan Rahma Nurchairani. Rahmalia dan Okki juga aktif dalam SERDADU (Sinergi Ekonomi Rakyat dan Kedaulatan Usaha), komunitas yang bergerak dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Mereka mengusung produk PURE SALACCA JAM, selai berbahan salak pondoh Banjarnegara.

Kompetisi ini diikuti mahasiswa aktif dari perguruan tinggi negeri dan swasta se-Jawa Tengah serta Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari sekitar 50 tim yang mendaftar, hanya lima tim yang lolos ke babak final.

Presentasi final berlangsung secara daring melalui Zoom pada 23 Agustus 2026. Pengumuman pemenang dilakukan pada 25 Agustus.

Baca Juga: UT Purwokerto Perkuat Ekonomi Syariah Inklusif, PKS dengan FEB UIN Jakarta Jadi Langkah Strategis

Juara pertama diraih Nine Hundred dari UNSOED, disusul Soedirman Innovators dari UNSOED sebagai juara kedua. Tim SALACCA dari Universitas Terbuka menempati posisi ketiga.

Akrab disapa Rara, Rahmalia Dewi mengatakan ide PURE SALACCA JAM berangkat dari persoalan yang dihadapi petani salak di Banjarnegara, terutama ketika panen raya.

“Awalnya kami melihat persoalan petani salak. Saat panen raya, harga bisa turun sampai Rp3.000 per kilogram dan sebagian buah tidak terserap sehingga berisiko busuk. Dari situ kami berpikir bagaimana salak bisa diolah menjadi produk yang punya nilai jual lebih tinggi,” kata Rara.

Produk tersebut mulai dikembangkan sejak Juni 2026. Dalam satu kali produksi, tim mampu menghasilkan sekitar 18 botol dalam waktu kurang lebih empat jam.

Salak pondoh yang digunakan diseleksi terlebih dahulu sebelum diolah. Prosesnya meliputi sortasi, pemasakan sekitar 60 menit, pengemasan secara steril hingga pelabelan.

Selain salak pondoh, bahan yang digunakan terdiri atas gula, air, jeruk nipis dan kayu manis. Produk dikembangkan dengan penggunaan pengawet dan pewarna buatan seminimal mungkin.

Sebelum mengikuti kompetisi, tim juga melakukan uji produk kepada 20 responden dari kalangan organisasi, instansi dan masyarakat. Hasilnya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki rasa dan produk.

Dalam kompetisi, penilaian mencakup proposal dan presentasi. Proposal menyumbang 44 persen penilaian, meliputi orisinalitas, kreativitas, keuangan dan risiko, serta kelayakan. Sementara presentasi menyumbang 40 persen melalui kemampuan presentasi, penyampaian isi dan sesi tanya jawab.

Menurut Rara, kekuatan tim terletak pada upaya mengangkat persoalan yang dekat dengan daerah sekaligus menawarkan solusi dalam bentuk bisnis.

“Yang paling kami syukuri bukan hanya juaranya, tetapi ide yang berangkat dari daerah ternyata bisa diterima dan bersaing dengan tim dari berbagai kampus,” ujarnya.

Dari penilaian juri, PURE SALACCA JAM dinilai memiliki cerita produk yang kuat, dampak sosial dan cita rasa yang unik. Tim juga mendapat masukan agar segera memperkuat branding.

Atas pencapaian tersebut, Tim SALACCA memperoleh uang pembinaan Rp400 ribu, e-sertifikat dan plakat.

Setelah kompetisi, tim tidak ingin berhenti pada pencapaian tersebut. Evaluasi terhadap produk akan dilakukan, termasuk menindaklanjuti masukan juri mengenai penguatan merek.

Tim juga menargetkan PURE SALACCA JAM dapat masuk ke sekitar 20 toko oleh-oleh dan dipasarkan secara online melalui Shopee dan TikTok. Mereka juga menyiapkan pengembangan varian baru, termasuk SALACCA Spicy.

Dalam jangka panjang, tim menargetkan PURE SALACCA JAM dapat berkembang menjadi salah satu produk oleh-oleh khas Banjarnegara sekaligus membuka penyerapan bahan baku salak dari petani.

“Harapannya bukan sekadar menjadi produk lomba. Kami ingin produk ini benar-benar berkembang dan bisa membantu menyerap salak petani. Target jangka panjang kami bisa menyerap sekitar 10 ton salak petani setiap tahun,” kata Rara.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *